Pringsewu, www.delikhukum.net – Dalam kegiatan Bersih Desa/Pekon atau juga sering disebut Sedekah Bumi merupakan budaya lokal yang perlu terus dilestarikan untuk kesadaran ekologis manusia agar paham dengan alam dan manusia yang secara sadar peduli dengan keadaan. Dari seluruh kegiatan yang ada, yang paling menarik adalah, masyarakat kita dahulu begitu menghargai alam hal ini, terbukti dengan adanya ritual bersih desa dan sampai sekarang tetap di lestarikan, sebagai bentuk atau wujud penghormatan manusia terhadap alam serta, sebagai wujud untuk mempersatukan seluruh masyarakat dalam satu wadah yang di anggap sakral ini untuk bersatu memanjatkan doa dan rasa syukur atas limpahan rahmat dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagai contoh, dengan adanya beragam kegiatan ritual serta doa, dilanjutkan dengan bermacam acara hiburan yang diselenggarakan oleh masyarakat Pekon se-Kecamatan Banyumas, dalam rangka bersih desa dengan katalain yaitu Soroan, Banyak sekali budaya kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat sebagai pelestarian budaya leluhur warisan turun-temurun yang di ibaratkan sebagaimana prinsip yang telah jauh dilakukan sebagai simbul pelestarian budaya nenek moyang pada umumnya.
Misalkan, salah satu gegiatan menjadi teradisi Suroan rutin tahunan digelar dalam rangka melengkapi acara bersih desa, yang diselenggarakan Pekon Banyuwangi Kecamatan Banyumas, Pringsewu, pada tahun ini 2019, selain diadakannya ritual Doa kenduri, pagelaran wayang kulit, dan hiburan atraksi kuda lumping, tak terlepas turut serta melengkapi rangkaian kegiatan bersih desa, yang dijadikan sebagai simbol rasa syukur masyarakat pekon setempat, yang telah dianugerahkan keselamatan kesejahteraan kesehatan serta kemakmuran oleh tuhan Esa yang sekiranya patut disyukuri oleh umat manusia sabtu, (28/09/2019) .
Pj Kepala Pekon Banyuwangi Astaman Yudha dalam penyampaiannya menuturkan, ” dengan dilakukakannya kegiatan rutin bersih desa dipekon kami ini khususnya, terselenggara atas kerjasama baik pihak pekon dan masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya ritual bersih desa dan sampai sekarang tetap di lestarikan, sebagai bentuk atau wujud penghormatan manusia terhadap alam. Serta untuk mempersatukan seluruh masyarakat dalam satu wadah yang di anggap sakral ini untuk bersatu memanjatkan doa dan rasa syukur atas limpahan rahmat dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa, “ungkap Astaman.
Masih dikatakan Astaman, ” Selain itu, pihak pekon beserta panitia dan masyarakat, juga menggelar aneka kegiatan lain yang bernuansa kesenian serta kebudayaan tradisional dalam rangka bersih desa misalkan kesenian atraksi kuda lumping tadi siang, serta pagelaran wayang kulit yang akan kami suguhkan pada malam ini. Perlu diketahui, kesemua kesenian serta kebudayaan tradisional yang ditampilkan, merupakan persembahan murni yang disuguhkan kepada masyarakat umum. “Pungkasnya.
Ditempat yang sama, Camat Banyumas Drs Hartoyo MM dalam kesempatan pembukaan acara pagelaran wayang kulit, pada sebelum dilakukannya penyerahan lakon pewayangan ‘Pitruk Nagih Janji’ kepada Pj kakon, Camat Hartoyo mengemukakan, “puja dan puji serta rasa syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang pada malam hari ini kita semua masih diberikan kesehatan untuk bersama-sama mengikuti kegiatan rangkaian bersih desa di Pekon Banyuwangi ini, “tutur Hartoyo.
Lanjut Camat, “Perlu saya sampaikan, kegiatan doa dalam rangkaian bersih desa seperti ini baik sekali karena dengan kegiatan doa, bersama-sama kita akan selalu mengingat dan mensyukuri nikmat nikmat yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, kepada kita sehingga diharap dapat mendatangkan berkah dan keselamatan bagi kita semua. “Ungkap Hartoyo.
Turut hadir dalam acara, Camat Banyumas Drs Hartoyo,MM, Bhabinsa Banyuwangi Serka Supardi, Kapospol Banyumas Bripka Yudi W, segenap kepala Pekon se-Kecamatan Banyumas beserta tokoh adat agama. (Fal//Dvt)











