
Caption ; Menu Keringan MBG Dapur SPPG Insan Mulia Margakaya, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu. (Sumber gambar akun tiktok SPPG Insan Mulia)
Pringsewu,www.delikhukum.net – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto bertujuan meningkatkan pertumbuhan dan menjamin kesehatan anak sebagai generasi penerus bangsa. Namun, pelaksanaannya di lapangan kembali menuai sorotan.
Secara teknis, pendistribusian MBG dibagi menjadi dua kategori, yakni porsi kecil dan porsi besar.
Porsi kecil diperuntukkan bagi siswa PAUD, TK, serta SD kelas 1 hingga kelas 3. Sementara porsi besar diberikan kepada siswa SD kelas 4 hingga 6, SMP, dan SMA.
Melalui kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN), pagu anggaran ditetapkan sebesar Rp8.000 untuk porsi kecil dan Rp10.000 untuk porsi besar per anak per sekali makan. Anggaran tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi harian siswa sesuai standar yang telah ditentukan.
Namun demikian, sejumlah wali murid di Kabupaten Pringsewu mengeluhkan menu yang diterima anak-anak mereka dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang telah ditetapkan.
Dapur SPPG Insan Mulia Margakaya, Kecamatan Pringsewu, menjadi salah satu yang dikeluhkan. Wali murid dari SMP Imbos dan TK Annur Waluyojati menyampaikan keberatan atas menu yang dianggap terlalu sederhana.
“Menu hari, Senin 23 Februari 2026, anak saya dapat telur 1, kurma 3 biji, roti kecil 1, dan pisang 1. Kalau ditotal mungkin sekitar Rp6.000 sampai Rp7.000,” ujar salah satu wali murid.
Keluhan serupa datang dari wali murid siswa SMP Imbos yang enggan disebutkan namanya.
“Anak-anak SMP dapat telur 2, pisang 1, kurma 3 biji, dan cookies 1. Kalau dipikir-pikir, cukup tidak untuk kebutuhan gizi anak SMP dan SMA dengan menu seperti itu?” ujarnya.
Seorang wali murid TK di Pringsewu bahkan meluapkan kekesalannya melalui status WhatsApp. Ia mengunggah foto satu buah pisang dan menuliskan keluhan terkait menu MBG yang diterima anaknya.
“Hari ini anakku dapat MBG pakai kantong kresek, dapat pisang 1, kurma 3, roti mini 1, dan telur 1. Bukan tidak bersyukur, tapi lama-lama kebangetan cari untungnya,” tulisnya.
Menanggapi keluhan tersebut, media ini melakukan konfirmasi kepada Kepala SPPG Dapur Insan Mulia Margakaya, Obby Ardhan, melalui sambungan telepon pada Selasa (24/2/2026).
Obby membantah tudingan bahwa pihaknya menyajikan menu hemat anggaran demi keuntungan pribadi. Ia menegaskan bahwa menu yang diberikan telah sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) yang berlaku.
“Ini sudah sesuai dengan juknis, dan antara porsi besar dan porsi kecil memang berbeda,” ujarnya.
Terkait pagu anggaran, Obby menyebutkan bahwa besaran dana telah sesuai ketentuan dari pemerintah.
“Pagunya Rp10.000 untuk porsi besar dan Rp8.000 untuk porsi kecil,” jelasnya.
Lebih lanjut obby mengatakan, “Keluhan ini sudah masuk kekami, dan ini akan menjadi koreksi dan bahan evaluasi kami kedepannya,” tegasnya.
Munculnya berbagai keluhan ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah menu yang disajikan telah benar-benar memenuhi standar gizi sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional?
Sejumlah wali murid berharap BGN dapat memperketat pengawasan terhadap dapur-dapur SPPG agar pelaksanaan program MBG berjalan sesuai tujuan awal, yakni meningkatkan kualitas gizi anak, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif.
Program yang digadang-gadang sebagai investasi masa depan bangsa ini pun diharapkan dapat dijalankan secara transparan, profesional, dan akuntabel demi kepentingan generasi penerus Indonesia. (Ifal)








